“Nikmat” Buah Sawo

Maret 3rd, 2010 by ozzymaesyar

Abin, anakku yang pertama sangat senang sekali akan segala jenis buah buahan. Dia tidak akan bertanya apakah buah itu matang atau tidak, darimana asalnya, atau bahkan milik siapa, di akan langsung melahap habis. Sedangkan Abank, anakku yang kedua sebaliknya, tidak begitu suka suka amat kerena menurutnya biasa biasa aja sebagaimana makanan lain, tak ada yang istimewa.

Suatu sore, saat aku kembali ke rumah setelah beberapa saat berbicang bersama PS dan MT di ruang majlis yang sering kami gunakan. Dan tak lupa aku pun membawa satu sisa satu buah “Sawo” yang sangat matang dan manis hasil oleh oleh dari MT sekembalinya dari Anyer, karena aku teringat sama Si Abin.

Sesampainya dirumah, saat akau akan memberikan buah itu sama Si Abin. Tapi sungguh diluar dugaan Si Abang yang ternyata menyambar duluan, terang saja Si Abin langsung bereaksi dan marah. Dan buah itupun jatuh menggelinding kebawah meja makan.

Sementara istriku hanya tersenyum melihat kejadian itu..” Lagian bawa buah cuma satu …pasti berantem lah yah ” begitu ujar istriku..”Yah ibu…kalau ada banyak mah ayah bawa,,kan dari sononya cuma sisa satu, kirain Si Abank ga suka bu..terus gimana nih masa harus ayah buang..kan sayang…begini aja gimana kalau dibagi dua…?” begitu ujarku pada istri dan kedua anakku..

Si Abang cuma diam sambil berdiri dengan wajahnya yang khas, sementara si Abin tidak mau menerima solusiku dan bereaksi dengan reaksinya yang khas juga….” Waaah celaka nih..” ujarku dalam hati. Dan kau pun dengan reaksi sedikit tegas menyuruh mereka untuk duduk disamping kiri kanan ibunya.

” Kamu tau engga dari mana asalnya buah ini ..? tanya ku pada kedua anakku

” Dari Mamah bibi…” jawab si Abang..

” Bukan…itu dali om plas..” si Abin pun menimpali

” kamu berdua salah…kira kira ibu tau buah ini berasal dari mana..? aku ganti bertanya pada istriku..

” ga taaau….kan ayah yang tahu dapat dari mana..? jawab istriku..

” dengerin nih..biasanya kalau ayah ngomong ga ada yang dengerin…tapi kali ini akan yah coba jelasin….mudah mudahan kalian ngerti.

” Buah ini bukan berasal dari mamah bibi, om prass, ataupun dari ayah, buah ini berasal dari sebuah pohon sebagaimana buah durian, buah mangga, buah salak, padi, ataupun buah buah lainya. Sebuah pohon yang ditanam oleh seseorang dan  keringat serta jerih payah , atau mungkin juga dengan darah dan nyawa. Dan belum tentu mereka menikmati buah buah yang manis itu, karena niat mereka menanam pohon itu bukan untuk dinikmati sendiri buahnya, tapi agar bisa dimanfaatkan oleh orang lain, baik itu akarnya, batangnya, atau daun serta buahnya. Pohon sawo itu bukan saja berbuah yang rasanya manis, tapi pohonnya juga sangat rindang. Saking rindangnya orang orang sering menjadikannya sebagai pelindung dari dari terik matahari yang sangat menyengat, atau dari hujan deras dengan petir yang menggelegar….kalian tahu kenapa kali ci liwung banjir begitu besar, dan akhirnya meneggelamkan kota kota dan desa desa ?   Karena pohon sawo dan pohon  pohon yang ada di gunung sana sudah tumbang dan ga ada….Kenapa Pohon pohon itu jadi tumbang ?.. yaah ada yang hanya karena ingin rumahnya jadi indah sendiri  pohon itu di tebang secara membabi buta, atau juga pohon pohon itu di mungkin ditumbangkan oleh Sang Pencipta karena memang buah dari pohon itu hanya membawa petaka yang membuat kita saling membenci satu sama lain atau bahkan mungkin saling bunuh..

Jadi..kalau hanya karena satu buah sawo ini kita jadi berantem, mungkin pohonnya akan segera tumbang karena ia ga ingin dirinya menjadi sesuatu yang membuat orang jadi celaka. Dan kalau sudah tumbang, tak ada lagi yang bisa melindungi kita dari terik matahari atau dari hujan yang sangat deras..Dan Tidak sampai disitu, para orang  yang menanam pohon itu akan dapat murka dari Allah karena telah menanam pohon yang membuat orang lain jadi saling benci dan bunuh.

Kelihatannya memang sepele…tapi itu memang terjadi loh..! tuh lihat kan….orang orang akhirnya hanya menangis dan sadar. Tapi semuanya sudah terlambat, karena rumah indahnya sudah tertimbun tanah longsor. Dan keluarganya, anak, istri, ayah, ibu, adik, kakak, saudara saudara, dan teman temanya sudah hanyut dan hilang entah kemana terbawa deras nya air bah yang datang secara tiba tiba. Saat kita menyesal dan menangis saat itu pula akan mendapat predikat sebagai manusia manusia yang tidak bersyukur akan nikmat Allah dan siksa Allah yang sangat pedih tidak lagi bisa di hindari..Na’uudaubillahi Min Dzaalik

Dan ingat…bencana besar selalu di awali dari sikap tidak bersyukur atas nikmat nikmat kecil yang di berikan oleh Allah…Contohnya, Yah buah sawo ini. Bukan berarti buah sawo nya harus kita buang, yang berati kita mengingkari nukmat Allah. Atau dimakan sendiri, pun ga akan bikin perut kita kenyang..

“Coba kalian pikir baik baik…..?” akupun bertanya pada kedua anakku. Setelah menjelaskan pada mereka dengan bahasa yang lumayan tinggi lah. Karena aku lupa, mereka bukanlah para sarja S1, tapi mereka adalah bocah bocah yang belum pernah tamat membaca Iqro I sekalipun…he he he..

Dan  tiba tiba Si Abin segera bergegas kedapur dan mengambil sebilah pisau dan memberikanya pada Si Abank. Dan tanpa diperintah, si Abang langsung membelah buah sawo itu menjadi dua bagian, dan dua bagian itu di belah menjadi masing masing dua bagian lagi….

” Ini buat Abank. ini buat Abin, ni buat ibu, dan ini buat ayah deh…” kata si Abin saat membagikan buah sawo yang telah menjadi empat bagian itu..Dan keduan anakku pun akhirnya mendapat solusi..

Kamipun akhirnya menikmati buah sawo yang sedikit itu tapi manisnya sangat luar biasa . Dan rasa manis itu itu tidak berkurang sedikitpun walau jumlahnya sedikit.

“Naaah… nanti kalau kalian udah gede, atau mungkin  kalian udah jadi sarjana. Entah sarjana hukum, sarjana pendidikan, sarjana ekonomi, atau sarjana apalah….. dan ayah sama ibu udah ga ada, terus kalian mendapatkan rizky dari Allah jangan nunggu di jelasin kaya gini lagi yah…kalian sudah harus tahu harus bersikap bagaimana, dan juga jangan suka ngeribet ribetin hal sebetulnya sederhana..oke ?”

” Iyaaaah….”   mereka pun menjawab serentak, entah mengerti entah ngga. Tapi mereka sudah kembali ceria dan tertawa sambil menyaksikan ulah “Spongboob Squarpaint” lewat televisi Sharp 14 inc yang 9 tahun lalu kami beli lewat kredit.

Bangjo Dan Mas Ning ( Alux Sang Navigator )

Februari 18th, 2010 by ozzymaesyar

dsc03644Sekitar pukul 2 siang, kami sampai di kota Tulung Agung dan memutuskan untuk singgah di rumah saudara kami. Kata pamanku dia adalah salah satu saudara kami yang terpaksa mengembara mengikuti sang suami dan sudah sepuluh tahun lebih tinggal di kota itu. Dia adalah anak dari sepupu neneku yang kebetulan neneke sama nenek dia…sama sama nenek lah..begitu kira kira, aku juga ga ngerti. Tapi cukup lumayan lah untuk dijadikan tempat singgah setelah lebih dari 24 jam melakukan perjalanan, atau dengan sedikit embel embel silaturrahmi, bisa juga sekedar nunmpang ngopi…he he he .

Ba”da ashar kami melanjutkan perjalanan kembali. Aku mendapatkan giliran untuk menyetir di damping oleh Faruk yang menjadi navigatornya. kota demi kota kami susuri dengan lancar seperti kami pernah lalui (padahal sih baru kali ini kami lewati). Setelah melalui kota Trenggalek yang meliuk liuk, sampailah kami pada sebuah jalan lurus menjelang kota Ponorogo..

“Luk…kalau ga sa;ah nanti di depan ada pertigaan, kalau kekanan ke pusat kota Ponorogo, nanti kita belok ke kiri ke arah Pacitan ” aku sedikit menjelaskan pada sang navigator agar dan dan menganjurkan pada nya agar bertanya apabila ada orang, untuk sekedar memastikan jalan yang kamu lalui tidak salah..

” Itu pertigaan nya zy ?” tiba tiba faruk mengingatkan pada sebuah pertigaan yang sedang kami cari.

“ya udah itu kali…tanya luk…. jangan lupa tanya arah ke Pacitan ”

Dan faruk pun segera turun daru mobil dan bertanya pada seseorang yang tengah duduk di atas motor. Dalam waktu singkat Faruk kembali ke mobil.

“Gimana  luk ?” tanyaku pada Faruk

” Bener  zy…kalau kekanan itu ke kota Ponorogo, Pacitan ke arah kiri ”

Tanpa berfikir panjang akupun membelokan Isuzu Panther yang ku kemudikan kearah kiri menuju kota Pacitan ( Sebenarnya menuju kota Pacitan bukanlah jalan pintas, tetapi sebaliknya. Tapi karena sebagian rombongan ingin melalui daerah Gunung Kidul yang konon merupakan daerah yang “menakjubkan”. Melalui kota inilah jalur yang kuketahui harus di tempuh). Tapi….aku sedikit ragu dengan jalan yang kami lalui, jalannya kecil dan tidak layak dikatakan sebagai jalan penghubung antar kota..

” Luk…kayanya jalannya ga begini deh, ini mah jalannya kecil, PAcitan kan kota besar masa jalannya seperti ini..kalau ada orang lebih baik tanya lagi ” aku menegaskan tentang keraguanku..

” Yaa udah..nanti kalau ada orang kita tanya lagi  deh ” …Faruk pun menjawabnya tanpa protes

Bebarapa saaat kemudian sampailah kami pada sebuah prapatan, dan kulihat ada seorang ibu setengah baya yang tengah berjualan ayama goreng. Dan aku menganjurkan pada sang navigator untuk bertanya pada ibu itu..

” Prapatan nih luk….coba tanya deh sama ibu ibu itu jalan kearah Pacitan kemana ?”. perintahku pada sang navigator. Dan tanpa basa basi dia pun segera turun dari kendaraan dan bertanya pada ibu itu..

” Gimana luk..kemana nih kita ?” tanyaku pada Faruk saat kembali ke mobil.

” Jadi…dari sini kita kekiri Zy…naaah, nanti pas ada Bangjo kita lurus aja terus..naaah nanti kita ketemu Bangjo lagi, baaaaru kita belok kiri..terus aja, itu jalan menuju kota Pacitan…

Tanpa ragu lagi akupun menginjak pedal gas menuju jalur yang di tunjukan oleh ibu pedagang tadi.

dan lima belas menit pun berlalu, kami menelusuri jalan itu sambil sesekali menegok kekiri dan kanan, berharap ada sebuah bangunan, toko, atau apalah yang kira kira bertuliskan ” Bangjo”…

” Luk..mana ini Bangjo nya” tanyaku pada Faruk sedikit bingung ..

“Udaah…coba terus aja dulu, di depan kali, nanti juga ketemu, lagian ini jalan satu satunya zy ” dia pun menjawab keraguan ku. Dan memang tidak pilihan lain selain jaln terus. Sambil menginjak pedal gas, tiba tiba aku kembali bertanya pada Faruk sang navigator..

” Emang “Bangjo” itu apaan sih luk…nama orang atau nama sebuah bangunan ”

” Naaaah, itu dia zy…dari tadi Aluk juga mikir kira kira apa yah ” Bangjo” yang dimaksud oleh ibu ibu tadi” jawab dia sambil menahan tertawa..

” Haaaah…..Masya Allah..dari tadi kamu ga tau apa maksudnya ” Bangjo ” itu . tanyaku pada Faruk sambil menggerutu..

” Yah engga lah, aluk kan ga nanya apa artinya, aluk kira sih Bangjo itu adalah sesosok laki laki yang berpakain hijau ” terang dia sambil terus tertawa tawa…

” dasar nih orang….. sekolah dimaaaana ya ?” akupun kembali menggerutu dalam hati

” Ya udah…ga usah nanya lagi percaya aja deh…kita ikutin jalan yang ada…paling paling juga nyasar ke hutan atau ke laut ” tegasku pada sang navigator dan menginjak pedal gas dengan sedikit dalam…

Benar saja,  kami mengarah ke sebuah jalan yang berliku, naik turun gunung, keluar masuk hutan, dan melalui lembah dan jurang yang curam dengan jalan semakin lama semakin menyempit. Namun, pada sebuah kelokan aku melihat sebuang plank penunjuk jalan yang berwarna hijau bertuliskan ” PACITAN 70 KM”…

” Naah itu luk Bangjo nya..tuuuh kan… baca aja…bener nih jalan kita ” sambil menujuk pada plank berwarna hijau itu dengan perasaan sedikit lega..

” iyah bener itu zy….terus aja deh, ”

akupun kembali menginjak pedal gas dengan keyakinan bahwa jalan yang kami lewati benar sudah benar, dengan kembali mamasuki kondisi jalan yang sama, sempit, curam,dan turun naik menembus pekatnya malam. Dan setelah hampir lima jam aku kembali menemukan plang  berwarna hijau….” Bangjo lagi tuh…baca luk “  sambil  menujuk ke arah plang itu

” Kanan Pracimantoro, lurus kota Pacitan” ucap sang navigator sambil membaca petunjuk arah

Akupun mengarahkan kendaraan sesuai petunjuk arah, lurus. dan………..akhirnya sampailah kami di sebuah daerah yang terang benderang di sambut sebuah baliho bertuliskan ” Selamat Datang Di Kota Pacitan “. sebuah kota yang semarak dengan lampu lampu, tetai sangat sepi, karena jam telah menujukan pukul 11.55 Wib..

Dan kami pun beristirahat dan berhenti di tempat seorang yang tengah menjual nasi goreng yang sangat tepat untuk dijadikan menu makam malam. Tiba tiba saja setelah prass  membuka laptopnya, dia pun menerangkan suatu informasi  hasil browsing nya di Internet….

” Ooooh..jadi luk, zy…ternyata yang dimaksud “Bangjo” bukanlah sesosok orang ataupun bangunan, dan bukan pula yang kami yakini sebuah plang yang kami temukan di jalan ” prass pun menerangkan..

“emang apa pras ?”

” Bangjo itu ternyata nama lain dari Lampu Merah..kalu disini di sebut “Bangjo”.. terangnya melanjutkan…

” Ooooh..Bangjo mungkin maksudnya lampu hijau kali….mungkin kalau di Jawa Barat namanya Lampu Merah, kalau di Jawa Timur namanya Bangjo…di Jawa Tengah juga kayanya juga nanti beda lagi namanya..” ujar Faruk sang navigator

” Apa yah luk kira kira namanya ?”

” Kayanya Menurut aluk sih namanya  ” Mas Ning”….kan pas..merah, hijau, kuning “  jawab Faruk kembali dengan meyakinkan..

Kamipun tertawa bersama sama memecah sepinya malam di kota itu. Dan walaupun di pandu sebuah petunjuk yang keliru dari awal, Alhandulillah akhirnya sampai juga di kota Pacitan. Dan sebenarnya tidak jelas juga maksudnya apa yang akan kami perbuat di kota ini. Ziarah, tidak ada makam ulama yang kami kenal, saudara atau kawan pun tidak ada….Dan akhirnya kamipun menghabiskan waktu di samping hangatnya penggorengan …

” Jauh jauh aku di ajak turun naik gunung, berjalan di antara lembah dan jurang…..hanya untuk makan nasi goreng…. dasar orang orang sambleng “…..

Bayang Gambang

Februari 4th, 2010 by ozzymaesyar

dsc035782“Bayang Gambang”, begitu tulisan yang kubaca, sebagai deskripsi atas salah satu peninggalan Sunan Drajat, yang menjadi salah satu media bagi beliau untuk menjalankan proses da’wah penyebaran ajaran islam di tanah jawa. Adalah sebuah panggung yang tidak terlalu besar, tapi juga tidak terlalu kecil dan bahkan cukup nyaman untuk dijadikan tempat berkumpul, bercengkrama, atau bahkan bermusyawarah. Di tempat ini pula konon para Wali Allah sering mengadakan kumpulan untuk membicarakan tentang cara cara, hambatan hambatan, target target, atau penyampaian tentang ” update ” usaha mereka dalam proses pengislaman tanah jawa..

Setelah bertawassul sejenak di pusara Sunan Drajat, Aku, Nasruddin, Iqbal. Faruk, Yaser ( saudara saudaraku), H Abdul Razak, Haji Udin, Om somad ( paman pamanku ), dan Pa Hanafi ( bukan saudara, bukan paman, juga bukan temen). Kami mulai menelusuri peninggalan peninggalan Sunan Drajat yang mungkin tersebar di komplek makam yang ku harap bisa menjadi inspirasi bagi kami.

Di antara himpitan makam makan keturunanya, kami menyaksikan ada dua buah bangunan terbuat dari kayu, yang satu berupa bangunan utuh yang sangat artistik berwarna jati, kata kakakku yang pertama itu adalah bangunan mesjid yang sering digunakan para peziarah untuk shalat beristirahat, dan entah kenapa aku tak begitiu tertarik dengan bangunan itu. Kami malah lebih tertarik pada bangunan yang kedua, dan satu persatu dari kami kami pun menghampari bangunan itu, sebuah bangunan dari kayu yang nyata terlihat sangat tua dan tidak mungkin bisa di pergunankan.

” Nah..ini bangunan yang sering di pakai oleh mereka ( Para Wali Allah ) untuk berkumpul”, kata kakakku yang pertama..
Oooh begitu, ujarku sambil mengangguk angguk tanda mengerti,
” kayunya sudah tua yah” , ujarku lagi, sebuah pertanyaan yang tidak perlu di jawab

Aku memang mengerti betul maksud pernyataan kakakku itu, karena kami pun sering melakukannya, berkumpul, bermusyawarah, ngobrol, dan membicarakan apa saja yang bisa di bicarakan, yang bisa membuat kami bersemangat atau termotivasi untuk menjalankan amanah orang tua kami yang terasa berat untuk kami pikul, atau sebaliknya, malah membuat kami semakin pusing tujuh keliling dan musyawarah pun bubar tanpa solusi.

Mungkin itu harapan yang muncul dalam benak saudara saudaraku, meneladani perjuangan para wali dan kami pun harus mencoba mencontohnya, karena memang itu tujuan dari perjalanan ziarah ini, mencari semangat, motivasi, dan inspirasi.

Tapi, saat kulihat wajah kakakku yang pertama ( Ia adalah pemimpin kami di keluarga dan dilembaga kami kelola), dengan kepala bagian depan hampir botak, dengan kaos oblong dan handuk kecil di pundaknya, mirip seperti tukang becak yang sedang mengadukan nasibnya karena becaknya belum lunas dan segera disita oleh leasing.

Dan kulihat pula kakakku yang kedua ( Ia adalah pimpinan sebuah pesantren yang katanya tertua di Kota Hujan), Boro boro seperti kiai, saat itu ia lebih mirip seorang wartawan yang “cekrak cekrek” sibuk mengambil gambar seperti seorang wartawan yang gambarnya akan di muat dikoran sore, padahal hasil jepretan kamera handpond Sony ericssen nya belum tentu jelas.

Kualihkan pula pandangan pada kakakku yang ketiga ( Ia pun seorang pimpinan pesantren, walau belum begitu tua, tapi muridnya sangat banyak ), dengan celana sontog, kain yang dilipat dan diletakan di atas kepala dengan maksud apa aku juga tak tahu. Yang jelas, ia mirip salah satu penduduk bukit tengger yang celangak celinguk mencari kambingnnya yang lupa belum di kasih makan.

Hatiku jadi tertawa geli melihat wajah wajah mereka, di tambah lagi dengan wajah paman pamanku yang seperti para pengelana konyol yang lupa atau bingung jalan pulang karena kehabisan ongkos.

Belum habis rasa geliku, ku alihkan kembali pandanganku pada ” Bayang Kambang” itu.
Alih alih mendapat inspirasi, yang muncul malah imajinasi tentang suasana musyawarah Para Wali. Dan, yang muncul bukan lagi niat untuk merusaha mencontoh, malah sebaliknya.
Timbul pertanyaan dalam diriku :” kira kira kalau mereka (para wali) berkumpul seperti kami atau tidak yah..? yang senantiasa kumpul tanpa jadwal yang jelas tapi dengan intensitas yang tinggi, dari pagi hingga malam. dari senen hingga ketemu senen lagi, dari minggu pertama hingga minggu keempat, atau dari januari hingga bulan desember. Selalu berkumpul membicarakan berbagai masalah, dari masalah perkembangan usaha syiar yang tak kunjung berkembang berkembang, tentang masalah bisnis bisnis yang telah dirintis agar dapat menopang segala usaha syiar yang berakhir sebaliknya, malah membuat segalanya jadi roboh berantakan, atau tentang pengorbanan pengorbanan yang membuat kami jadi tidak ikhlas, malah bikin sebel dan gondok karena pemberian yang salah sasaran, atau tentang murid murid kami yang beraneka ragam, yang bodoh, pintar, kaya, miskin, belagu, manja, cengeng, berani, penakut, kepribadian tidak jelas, dan lain lain.

Atau, tak jarang kami saling bercerita tentang fenomena fenoman adari timur sampai barat, atau dari kutub utara sampai kutub selatan , tentang yang kami tahu atau bahkan tentang yang kami tidak tahu sedikitpun tak luput jadi bahan musyawarah. Hikmah apa yang ingin di petik, kami pun tak tahu pasti.

Imajinasiku mulai tak terbendung lagi, mataku masih menatap detil detil bangunan “Bayang Kambang” dengan rasa geli yang belum hilang, mulai muncul sebuah dialog imajiner tentang para wali yang tengah berkumpul dan berbincang.

Kubayangkan saat itu “drajat” sedang tiduran miring dengan jubah lusuh dengan kepala di topang tangan. Disampingnya, “Ampel” duduk bersila dihadapan sebuah meja sambil mencatat sesuatu yang ga penting penting amat, hanya memanfaatkan alat tulis yang menganggur, tiba tiba datang sebuah kereta kuda yang di kendalikan Girii.

” ama siapa gir”? …sapa “Ampel” sambil tersenyum seperti biasa..

dan “Gir”i pun langsung duduk tak perlu menjawab (emang ama siapa lagi selain yang itu itu juga),
merekapun mulai pada duduk dengan berbagi posisi, ada yang selonjoran, ada yang langsung tiduran, dan Bonang, seperti biasa langsyng membuka  kitab ” Misbahul Online ” yang selalu menjadi panduannya

” lagi pada ngapain nih” ?, tanya “Giri” pada “Ampel” dan “Drajat”
Ah.. lagi begini aja ” jawabnya ambil sambil menutup buku
“ngobrolin rencana ” tambah “Drajat” tanpa kata lanjutan sambil memperbaiki penutup kepala

” pada ngopi nih”? “Ampel” bertanya pada yang lain setengah ragu jangan jangan kopinya ga ada

” iya dong” jawab yang lain serentak..

Dimulai dengan Pembicaraan yang tidak ada sangkut pautnya dengan masalah syiar, selanjutnya, mengalirlah obralan obralan lain tentang masalah masalah mereka sehari hari, tentang para murid, para guru majelis, tentang keluarga, tentang peluang peluang dana dari Majapahit yang harus segera di tindalk lanjuti dengan proposal, seakan akan semuanya adalah masalah penting penting yang harus di carikan jalan keluar..

” Malik Ibrahim kemana” ? pertanyaan “Ampel” memecah obrolan
dan “Ngundung menjawab ” Tau tuh…tadi malem mah ada tiduran di pelataran mesjid di samping koropak”

“Jenar” ? ada ?
Ah..perasaan jarang ketemu sama dia, paling paling malem ketemu sambil bawa cucian, biasanya ngumpul di tempat para guru majelis, sambil mengisab cerutu buatan Blambangan, soalnya kalau ngisep di rumah bakal ditabok sama nyai nya….. biasanya sih sambil menawarkan barang barang purbakala zaman kerajaan Kutai”. jawab salah satu peserta musyawarah

“barang apa” ?

“ya itu…blangkon raja Kutai, atau senjata Sam Urai dari dari negeri yang orangnya merem merem..

“Ah masa” ? tanya “Ampel” lagi

” Eeeeh dipikirin…sudahlah, mau percaya mau ga, ga dapet pahala ga dapet dosa..biarin aja..!! Lebih baik kita fokus sama masalah kita” tegas ngundung.

” Ya udah kita kembali ke masalah kita, masalah yang mana nih ?”, tanya ampel kebingungan karena saking banyaknya masalah.

Dan akhirnya musyawarah pun sampai pada puncaknya.

” begini …. Pel, kata “Giri”, “kira kira ada buat genselan dulu ga yah, nanti insya Allah di ganti kalau proposal dari Majapahit sudah tembus, kira kira awal bulan besok lah…lumayan lah buat menambah sarana buat syiar, nanti di ganti dari situ, soalnya para carik dari majapahit minta anggaran dulu besok”

“berapa ?”
“Yaaah…kira kira sekian lah
“Drajat..! kamu ada dulu ga ?
“Waaah..belum ada euy..mungkin kalau minggu depan ada, itupun bantuan dari majapahit juga yang dananya ga bisa di gannggu gugat…..karena emang ga ada dananya ” ? Drajat sedikit menjelaskaan…

” yah yah yah…coba besok mudah mudahan ada ” ? jawab “Ampel”, mungkin sambil berdoa mudah mudahan tidak ada lagi hari esok

Dan peserta musyawarah pun semua terdiam, sambil memutar otak, yang putaranya ga akan kunjung berhenti sebagaimana bumi berputar.

Dan musyawarah pun bubar, dan hasilnya…sepertia biasa… tidak jelas yang mana masaalah apa yang harus diutamakan dan di prioritaskan, semuannya jadi maha penting

” Hayu zy..yang lain sudah jalan “….akhirnya ajakan dari Prass membuyarkan imajinasiku yang singkat, sembrono, dan serampangan. Imajinasiku tentang Bayang Kambang sebagai salah satu tempat Para Wali serta suasananya pada saat itu sudah barang tentu tidaklah benar.

Aku kembali berjalan menyusuri jalan kecil di dalam komplek pemakaman Sunan Drajat sambil berbaris dengan jarak tak beraturan. Iqbal, Faruk , Prass, yaser, mereka berjalan di depanku. Sedangkan Nasrudin beserta paman pamanku berjalan di belakangku.

Seiring dengan menculnya senar mentari, akupun melangkahkan kaki dengan ceria.
Dengan hati yang terasa sangat bahagia karena berada di tengah tengah saudara saudaraku yang sedarah, sehati, seperjalanan, dan selalu satu tujuan.

Yaa Allah…..Ridhoi langkah kami…

Ini Makam Siapa Yah ?

Februari 4th, 2010 by ozzymaesyar

dsc034872Dalam perjalanan kami mengelilingi pulau jawa dan sekaligus berziarah ke makam makam serta ke tempat tempat para Wali/Ulama terdahulu, berbagai macam kisah dan cerita selalu  mengiringi perjalanan kami. Dari cerita cerita yang inspiratif sampai cerita cerita lucu dan menggelikan selalu tersempil dalam perjalanan kami dan itu cukup menjadi hiburan di tengah keletihan

Waktu itu menjelang adzan subuh, kami tiba di Karang Ampel yang menjadi bagian dari kota Besar Cirebon. Kota ini menjadi tujuan pertama kami, karena di kota ini pula salah satu Wali Allah Kanjeng Sunan Gunungjati pernah berda’wah menyiarkan agama islam, sekalgus menjadi tempat dimana beliau dimakamkan.

Adzan subuh telah berkumandang beberapa menit yang lalu saat kami tiba di lokasi pemakaman. Dan ternayata lokasinya tidak seperti yang ada dalam pikiranku, sebuah pegunungan yang jauh dari hiruk pikuk manusia, melainkan sebuah tempat yang berada di pinggir jalan besar dan hampir tepat ditengah jantung kota. Dan Om Somad pun segera memarkirkan kendaraan Teriosnya dan diikuti Iqbal di mobil yang kedua, di pinggir jalan.

“ mana makamnya Om ? ” aku bertanya sama Om Somad setelah turun dari mobil sambil sedikit mengerak gerakkan badanku menghilangkan pegal dan kaku..

“ Tauuu…. sekarang mah kaya nya sudah beda, dulu ada gunung kecil di sini, dan situlah makamnya berada ”. Jawab Om Somad sambil menengok kiri kanan

“ Itu bukan Om gunungnya ?” kataku sambil menunjuk sebuah gundukan besar yang sedikit di balik rindangnya pepohonan di seberang jalan..

“ Oh iyaah..itu dia masih ada gunungnya ? “ jawab dia setengah hati sambil membalikan badan dan mengambil sesuatu dari dalam mobil.

“ Yaah masih masih ada kali Om…lagian siapa pula yang iseng mindahin gunung !!” akupun menimpalinya dengan senyum sedikit kecut.

Kamipun segera bergegas mengambil barang barang yang diperlukan, di awali dengan ajakan Ust Nasrudin kamipun berjalan menuju pemakaman itu. Tapi…aku heran, karena jalan yang di lalui justru kekiri ke sebuah gang di tengah himpitan rumah rumah. Sedangkan komplek makam berada di kanan seberang jalan.

“ Ko kesini sih A…? “ akupun bertanya pada Ust Nasrudin..

“ Iyaah..kita solat dulu supaya jongjon..lagian makamnya masih tutup Oz “ Jawabnya..

“ Oooh…begitu “ aku menjawabnya antara mengerti dan tidak. Aku mengerti karena dengan sholat terlebih dahulu kita akan tenang mengerjakan apapun setelahnya, yang aku tidak mengerti ? “ Kok makam ada tutupnya yah…..kaya warteg …hi.hi.hi..

Setelah sampai di mesjid, kami bergegas mengambil air wudhu da sama samma mengerjakan sholat tapi terpisah pisah, ada yang di tengah, di pojok, di pelataran, dan ada juga yang menerobos kebarisan paling depan. Dan setelah mengerjakan sholat, aku, Prass, dan Ust. Nas berbaring di pelataran mesjid sambil berbincang bincang menunggu yang lain berkumpul.

Setelah semua berkumpul, kami bersepakat untuk mengisi perut kami terlebih dahulu sebelum menuju makam ( supaya jongjon kata Ust. Nasrudin mah ). Dan setelah berputar putar sejenak akhirnya kami menemukan sebuah rumah makan terletak di pojok jalan, kamipun makan walau dengan menu yang tersedia dan sedikit di paksakan masuk perut, karena semua lauknya terasa sangat manis (tidak cocok dengan lidah kami)

“ Eh.. Kopral Hanafi mana ?“ tanya Ust. Nasrudin ditengah aktivitas makan kami..

“ Ooo iya” jawabku pura pura ingat sambil beranjak dari kursi untuk segera mencarinya.

Dan Kopral Hanafi pun segera kutemukan sedang duduk dan khuss berdo’a di barisan paling depan mesjid di hadapan sebuah tembok yang berbentuk kotak lumayan besar..

“ Maang, hayo “ akupun menyapa sambil menepuk pundaknya halus.

“ Eeeh…hayo kemana ? ” sambil menoleh dan sedikit terkaget.

“ Yah kemakam Sunan Gunung Jati ..lah “

“ Loh…ini makam siapa? “ dia bertanya sambil mengarahkan mulutnya ketembok yang ada di depanya..

“ Huus, itu bukan makam ! ” jawabku

“ haah….kalau bukan makam, emang itu apa ?” tanya dia lagi

“ Itu kolam ikaaan maaaaang..?’ jawabku sambil sedikit berbisik ketelinganya

“ Ah..masa sih ?“ dia pun kaget segera berdiri dan berjalan mengikuti ku di belakang ( sebenarnya akupun aku pun tidak tahu tahu sebenarnya itu bangunan apa, he he he…… ).

Matahari belum lagi muncul, setelah sarapan yang ga enak, kami semua pun segera berjalan menuju Makam Kanjeng Sunan. Di depan gerbang makam kami disambut para petugas makam yang berdiri disamping koropak yang tersedia, dengan nada agak sedikit kurang sopan petugas itu menyuruh kami ntuk mengisi koropak terlebih dahulu sebelum masuk komplek, dan Prass yang berada di barisan paling belakang yang akhirnya memasukan beberapa lembar uang kertas kedalam koropak.

Kami pun berjalan menysuru jalan yang agak sedikit menanjak menuju atas bukit dimana makam berada. Ditengah perjalanan, aku melihat sebuah makam yang sangat besar melebihi ukuran normal, kira kira sepuluh atau limabelas kali lipat dari ukuran makam bisa.

“ Weeh..ini makam siapa yah ? ” aku bertanya pada yang lain

“Weeh..iyah..makam siapa yah ? ” Prass pun menimpaliku

“ Usss..gede amat yah ? “ Faruk pun menambahkan

Tanpa ada yang menjawab dengan pasti sebenarnya itu makam siapa. mungkin nanti setelah kembali dari makam Kanjeng Sunan kami akan mencoba mencari tahu lebih lanjut.

Sampai di atas bukit kecil, tibalah kami di depan pintu sebuah bangunan yang tidak terlalu besar, dan kami di persilahkan masuk oleh beberapa petugas , itupun setelah kami kembali sedikit dipaksa untu mengisi koropak yang tersedia di depan pintu. Kamipun berkumpul di depan makam yang di kelilingi kain lusuh yang depanya berserakan beberapa perlengkapan sesajen dengan aroma dupa yang menyengat.

Kamipun bersama sama bersila dan berdoa yang dipimpin oleh pamanku yang paling tua, KH. Abdul Rozak . Namun, ketika kami tengah khusu berdoa dan membaca Fatihah, tiba tiba pamanku yang memimpin doa menoleh pada kami dan bertanya :

“ Ini makam siapa ? “ sambil menoleh pada kami satu persatu dengan logat sunda dan mimik muka yang sedikit aneh.

Kami semua pun mengangkat kepala dan saling berpandangan satu sama lain dengan wajah keheranan, tak ada yang berani menjawab..

“ Lah…ga taaau “ akhirnya Prass menjawabnya dengan wajah sedikit menahan tawa memecah kebisuan kami

“Ini makam siapa pa ?” pamanku bertanya pada petugas makam dengan nada sedikit tinggi..

“ Dzaaaa…tu hhhhaaafffi ? “ jawab petugas itu dengan kata tidak jelas

“ Siapa ?!?! “ tanya pamanku lagi

“ Dzaaatu haaaahhfii “ jawab petugas itu lagi

“Dzaaatu Kahfi ” kakakku Ust. Nasrudin menegaskan jawaban petugas itu ( dan wajahnya kulihat sedikit kesal )

Tanpa bertanya apa apa lagi pamanku kembali menghadap makam dan melanjutkan doa, dan kami pun mengikutinya sambil tidak kuat menahan tawa. ( Soalnya, pamanku dari tadi mimpin doa di hadapan sebuah makam, tapi sebenarnya ia tidak tahu makam siapa gerangan yang ada di depannya, yang ternyata bukan pula Makam Kanjeng Sunan Gunung Jati ).

Akupun berkata dalam hati sambil menunduk antara khusu dan menahan tawa …

“ Pantas saja… aku tadi agak sedikit curiga melihat wajah kakakku Ust. Nasrudin celingukan kesana kemari dengan wajah tidak serius, ternyata dia melihat sesuatu yang berbeda didalam lokasi makam, yang lebih terlihat sebagi tempat memuja ketimbang tempat bertawassul “.

Kami akhir nya keluar dari bangunan makam tanpa perasaan tertarik sedikitpun untuk mengamati makam itu, itupun lagi lagi kami dipaksa agar tidak lupa mengisi koropak… “ Baah…gua tendang juga nih koropak “ hati ku berkata sambil menahan kesal..

“ Kirain itu makam Sunan Gunung Jati Om?” aku bertanya lagi pada Om Somad setelah keluar dari bangunan makam

“ Bukan Lah Zi….Makam Sunan Gunung Jati adanya di sono ?“ jawab Om Somad sambil menunjuk kearah seberang jalan yang entah kemana, akupun tak tahu..

“ kenapa ga kasih tahu dari tadi Om, kalau makamnnya disana ?” aku menimpalinya

“ Sebenarnya gua udah tahu kalau makamnya bukan ini, gua Cuma ngikutin luh luh pada jalan kesini“ Tegas dia sedikit sombong..

“ Dasar Somdun ?” hatiku mengerutu

Semuanya kembali menuruni bukit itu menuju gerbang keluar lokasi komplek makam, tapi aku masih menyempatkan diri untuk berhenti sejenak di samping makam besar tadi sempat kulihat. Dan tidak ada nama, tahun, atau keterangan apapun di atas makam itu, yang pasti, kalaun ini makam seorang manusia, pasti tubuhnya besar seperti raksasa. Dan akupun mencoba mengabadikannya dengan kamera Hp.

Saat akan mulai memotret, tiba tiba Kopral Hanafi muncul disamping ku…

“ Ini makam siapa zi “ tanya Kopral Hanafi padaku

“ ini makam Syeiiikh “ jawabku dengan yakin

“ Syeikh ?….syeikh apa zi ? “ dia melanjutkan pertanyaannya

“ Ini adalah makam Syeikh Phitecantropus Walisongoensus Erectus ?“ aku menjawab sambil menatap wajahnya sambil serius

“ Haaah…” dia pun heran

“ Iyahhh…dia hidup pada zaman dahulu kala ?“ terangku lebih lanjut

“Zaman kapan tuh …? ” tanya dia lagi

“ Yah itu…..Zaman Megalithikum !!!” jawabku lagi sambil bergegas pergi..

“ Ah…maneh mah ngarang wae “ ucap dia sambil tersenyum dengan giginya yang ompong

“ Bodo amat…emang gua pikiran “ sambil bergesa pergi menyusul yang lain menuju kendaraan..

Hujan rintik rintik mulai turun, dan kamipun segera meninggalkan kota Cirebon melanjutkan perjalan ke lokasi berikutnya sambil mendengarkan penjelasan kakakku Ust. Nasrudin tentang siapa sosok Dzaatu Kahfi.

“ Dzaatu Kahfi itu adalah salah satu guru dari Sunan Gunung Jati dan bla…. bla….. bla “ terang Ust. Nasrudin mengiringi perjalanan kami. Dan aku tidak menyimak dengan baik karena mataku mulai tertuju pada orang orang yang pagi mulai beraktivitas di jalanan dengan pikiran bertanya tanya dimana sebenarnya Makam Sunan Gunung JAti Berada ( masa sih dia sudah pindah dari Cirebon ke kota lain, karena selam ini dia cuma ngontrak di sini…ga mungkin kan ?)

Semoga saja perjalanan ini akan mengantarkan kami pada lokasi berikutnya  dengan tujuan lebih pasti dan jelas tanpa adalagi yang harus bertanya…………………………………….”Ini makam siapa yah…?

( ” jadi ente ente  pada ziarah ke makam siapa sebenarnya tadi” Daihatsu Terriospun akhirnya bertanya…..

Au ah gelap……?!@#$@#@@#wzewzezwzzdzwzf ??????)

Kita Dan Peristiwa

Juni 26th, 2009 by ozzymaesyar

dulu ketika pernah mendapat tugas mengajar anak anak dikelas, pernah mendapatkan pertanyaan dari salah satu anak tentang nilai sebuah pelajaran sejarah. Kenapa sih ilmu sejarah tidak ada prakteknya..tidak asyik sebagaimana pelajaran pelajaran yang lain..seperti biologi dengan laboratoriumnya, fisika dan kimia dengan laboratoriumnya, atau bahasa dengan laboratoriumnya…aku jawab saja…sejarah juga punya museum untuk media praktek, terus prakteknya gimana ? anak itu balik bertanya kembali karena jawaban itu memang tidak memuaskan. aku diam sejenak…….lantas bruaaaak ….. meja yang ada dihadapan saya saya pukul keras keras sehingga menimbulkan suara yang membuat orang2 yang ada di area sekolah kaget
, tak terkecuali tentunya anak yang ada tadi bertanya pun kaget. Anak itu diam dengan expresi yang tidak jelas karena melihat saya memukul meja dan pasti karena marah, tapi marah karena apa ? apa karena saya songong ? atau gara2 saya tadi marah gara dia bertanya dan saya sedang kesal ? itu mungkin pertanyaan yang ada dalam benaknya yang tidak lagi membutuhkan jawaban. Tidak lama kemudian beberapa anak mulai keluar dari kelas untuk mencari dari mana asal suara gebrakan meja itu, juga tak ketinggalan beberapa rekan saya juga keluar dari kantor, kamar, dan ruangan lain untuk juga mencari suara yang tak lazim itu. Akhirnya jadilah sekumpulan orang orang yang berdiri keheranan sambil menatap keruangan tempat saya dan anak tadi bertanya berada, denagan expresi macam macam..ada yang heran, ada yang takut, ada yang ketawa, ada juga yang ikutan marah karena kaget.

saya langsung menatap ke wajah anak yang masih berexpresi tidak jelas itu. Kamu tahu kenapa saya pukul meja dengan keras ? … karena kamu tadi bertanya bagaimana prakteknya ilmu sejarah ! kata saya tanpa menunggu anak itu menjawab….. Haah…itu saja jawaban anak itu, iyah..makanya saya jawab dengan memukul meja, bukan karena saya marah,tapi, karena saya saya sedang mempraktekan proses terjadinya sejarah. Lantas dengan nada datar saya mulai menjelaskan tentang bagaimana proses terjadinya sejarah. Artinya, satu peristiwa selalu menjadi sebab sekaligus menjadi akibat bagi munculnya peristiwa lain, cantohnya tadi, karena kamu bertanya saya jadi pukul meja, karena saya pukul meja orang jadi pada kaget, karena pada kaget jadi pada keluar ruangan sambil marah, heran, bahkan ada yang takut, terus dan terus menimbulkan peristiwa peristiwa lain yang kita tidak tahu sampai kapan akhirnya, itu baru dalam skala sangat kecil loh !.., cuma gara gara pukul meja. Belum lagi kita bicara tentang peristiwa sebelumnya kenapa saya pukul meja, karena kamu bertanya, kenapa kamu bertanya ?, karena pengen tahu, kenapa pengen tahu ? karena kan lagi belajar, terus dan terus kita pun ga tahu gimana awalnya.

Jadi begitulah sejarah, sebuah rangkaian peristiwa yang tidak terputus, terus menerus dan sambung menyambung baik itu peristiwa kecil ataupun besar sampai otak kita pun tidak mampu untuk menemukan bagaimana awalnya dan bagaimana berakhirnya. Apalagi untuk merangkainya menjadi satu cerita yang utuh. Itulah kenapa para ahli mernyebutnyanya dengan “sejarah” yang asal katanya “Syajarotun” dari bahas arab yang artinya pohon, sebuah benda hidup yang memilki rangkaian tidak terputus dari bawah sampai atas atau dari akar sampai pucuk…

Oooh…jadi kita kita ga butuh laboratorium untuk praktek ? kata anak tadi..

Iyah..jawab saya, kita tidak butuh laboratorium khusus untuk praktek ilmu sejarah, kita bisa menjadikan setiap dan segala tempat tanpa terkecuali untuk prakteknya,

Kamu mau coba ? tanya saya

mau coba ga ? yaah ga harus pukul meja kaya saya saya tadi, kita ambil contoh lain saja..mau coba ga ?

boleh ? kata anak itu

yah sudah ambil tuh batu terus sambit kepala bapa guru yg sedang berdiri depan kantor…berani ga ? pasti akan muncul peristiwa besar…

anak itu tidak menjawab hanya kaget sejenak dan terus tersenyum..Sekarang kamu ngerti ? ngerti ga ?

ngerti pa ! jawab dia

Lantas kamipun terus turun dari tangga kelas seiring dengan bunyi bel tanda belajar malam sudah selesai…

Dan terus terang, saya jadi berfikir, saya pun tidak pernah belajar tentang teori itu apalagi dengan menggunakan metode praktek seperti itu, semuanya reflex saja…Malah saya balik bertanya pada diri saya sendiri…Waaah bener apa ga ya gua nerangin ?????

Ah bodo amat, yg penting itulah yang saya pahami, toh memang faktanya seperti itu. Terkadang peristiwa besar sekalipun kalau kita mau menelusurinya dengan sungguh sungguh terkadang di sebabkan oleh hal yg sangat sepele.

Dalam tulisan tulisan selanjutnya akan saya coba menceritakan peristiwa peristiwa besar bagi saya…Yaah …. setidaknya bisalah dikategorikan sebagai peristiwa bersejarah setidaknya bagi diri sendiri yang justru di sebabkan hal hal kecil.

Jangan jangan perang dunia pertama di sebabkan oleh seekor lalat…yah seekor lalat yang kebelet pengen pipis karena ngantri terus pipis aja di atas roti seorang prajurit dari Serbia yang sedang beristirahat karena habis latihan baris berbaris, dan mencoba mengusirnya dengan gagang senapan laras panjang dan …Daaaar, secara tak sengaja senapannya meledak karena yang dipukulnya piring kaleng yang keras standar militer, dan wuuuush ..pelurunya melesat sejauh 1 kilometer dan mengenai kepala belakang seorang pemuda yang sedang berpelukan dengan seorang gadis di pinggir sungai yang tidak ada airnya….celakanya pemuda itu ternyata pangeran dari kerajaan Austria yang sedang pacaran secara backstreet dengan seorang puteri dari Perancis, soalnya perancis sedang bermusuhan dengan Jerman yg salah satu sekutunya adalah Austria……Tuh kan, ko bisa bisanya tuh lalat pake kebelet segala, pipsnya di atas roti lagi kaya ga ada tempat lain aja dan prajurit juga ga mikir lagi, masa ngusir lalat pake senapan segala, apa susahnya pake jari. itu lagi, pangeran ada ada aja pacaran di wilayah musuh saking takutnya ama orang tua si gadis yang raja Perancis, di pinggir sungai kering lagi, bukannya di pojok kastil aja……Yaaah bisa ditebak kan bagaimana selanjutnya..perang dunia melibatkan hampir seluruh negara yang ada di dunia….Hancuuuur sudah dunia karena lalat yang kebelet pipis ( kali aja begitu !!!!!!!…he he he )