“Nikmat” Buah Sawo
Maret 3rd, 2010 by ozzymaesyarAbin, anakku yang pertama sangat senang sekali akan segala jenis buah buahan. Dia tidak akan bertanya apakah buah itu matang atau tidak, darimana asalnya, atau bahkan milik siapa, di akan langsung melahap habis. Sedangkan Abank, anakku yang kedua sebaliknya, tidak begitu suka suka amat kerena menurutnya biasa biasa aja sebagaimana makanan lain, tak ada yang istimewa.
Suatu sore, saat aku kembali ke rumah setelah beberapa saat berbicang bersama PS dan MT di ruang majlis yang sering kami gunakan. Dan tak lupa aku pun membawa satu sisa satu buah “Sawo” yang sangat matang dan manis hasil oleh oleh dari MT sekembalinya dari Anyer, karena aku teringat sama Si Abin.
Sesampainya dirumah, saat akau akan memberikan buah itu sama Si Abin. Tapi sungguh diluar dugaan Si Abang yang ternyata menyambar duluan, terang saja Si Abin langsung bereaksi dan marah. Dan buah itupun jatuh menggelinding kebawah meja makan.
Sementara istriku hanya tersenyum melihat kejadian itu..” Lagian bawa buah cuma satu …pasti berantem lah yah ” begitu ujar istriku..”Yah ibu…kalau ada banyak mah ayah bawa,,kan dari sononya cuma sisa satu, kirain Si Abank ga suka bu..terus gimana nih masa harus ayah buang..kan sayang…begini aja gimana kalau dibagi dua…?” begitu ujarku pada istri dan kedua anakku..
Si Abang cuma diam sambil berdiri dengan wajahnya yang khas, sementara si Abin tidak mau menerima solusiku dan bereaksi dengan reaksinya yang khas juga….” Waaah celaka nih..” ujarku dalam hati. Dan kau pun dengan reaksi sedikit tegas menyuruh mereka untuk duduk disamping kiri kanan ibunya.
” Kamu tau engga dari mana asalnya buah ini ..? tanya ku pada kedua anakku
” Dari Mamah bibi…” jawab si Abang..
” Bukan…itu dali om plas..” si Abin pun menimpali
” kamu berdua salah…kira kira ibu tau buah ini berasal dari mana..? aku ganti bertanya pada istriku..
” ga taaau….kan ayah yang tahu dapat dari mana..? jawab istriku..
” dengerin nih..biasanya kalau ayah ngomong ga ada yang dengerin…tapi kali ini akan yah coba jelasin….mudah mudahan kalian ngerti.
” Buah ini bukan berasal dari mamah bibi, om prass, ataupun dari ayah, buah ini berasal dari sebuah pohon sebagaimana buah durian, buah mangga, buah salak, padi, ataupun buah buah lainya. Sebuah pohon yang ditanam oleh seseorang dan keringat serta jerih payah , atau mungkin juga dengan darah dan nyawa. Dan belum tentu mereka menikmati buah buah yang manis itu, karena niat mereka menanam pohon itu bukan untuk dinikmati sendiri buahnya, tapi agar bisa dimanfaatkan oleh orang lain, baik itu akarnya, batangnya, atau daun serta buahnya. Pohon sawo itu bukan saja berbuah yang rasanya manis, tapi pohonnya juga sangat rindang. Saking rindangnya orang orang sering menjadikannya sebagai pelindung dari dari terik matahari yang sangat menyengat, atau dari hujan deras dengan petir yang menggelegar….kalian tahu kenapa kali ci liwung banjir begitu besar, dan akhirnya meneggelamkan kota kota dan desa desa ? Karena pohon sawo dan pohon pohon yang ada di gunung sana sudah tumbang dan ga ada….Kenapa Pohon pohon itu jadi tumbang ?.. yaah ada yang hanya karena ingin rumahnya jadi indah sendiri pohon itu di tebang secara membabi buta, atau juga pohon pohon itu di mungkin ditumbangkan oleh Sang Pencipta karena memang buah dari pohon itu hanya membawa petaka yang membuat kita saling membenci satu sama lain atau bahkan mungkin saling bunuh..
Jadi..kalau hanya karena satu buah sawo ini kita jadi berantem, mungkin pohonnya akan segera tumbang karena ia ga ingin dirinya menjadi sesuatu yang membuat orang jadi celaka. Dan kalau sudah tumbang, tak ada lagi yang bisa melindungi kita dari terik matahari atau dari hujan yang sangat deras..Dan Tidak sampai disitu, para orang yang menanam pohon itu akan dapat murka dari Allah karena telah menanam pohon yang membuat orang lain jadi saling benci dan bunuh.
Kelihatannya memang sepele…tapi itu memang terjadi loh..! tuh lihat kan….orang orang akhirnya hanya menangis dan sadar. Tapi semuanya sudah terlambat, karena rumah indahnya sudah tertimbun tanah longsor. Dan keluarganya, anak, istri, ayah, ibu, adik, kakak, saudara saudara, dan teman temanya sudah hanyut dan hilang entah kemana terbawa deras nya air bah yang datang secara tiba tiba. Saat kita menyesal dan menangis saat itu pula akan mendapat predikat sebagai manusia manusia yang tidak bersyukur akan nikmat Allah dan siksa Allah yang sangat pedih tidak lagi bisa di hindari..Na’uudaubillahi Min Dzaalik…
Dan ingat…bencana besar selalu di awali dari sikap tidak bersyukur atas nikmat nikmat kecil yang di berikan oleh Allah…Contohnya, Yah buah sawo ini. Bukan berarti buah sawo nya harus kita buang, yang berati kita mengingkari nukmat Allah. Atau dimakan sendiri, pun ga akan bikin perut kita kenyang..
“Coba kalian pikir baik baik…..?” akupun bertanya pada kedua anakku. Setelah menjelaskan pada mereka dengan bahasa yang lumayan tinggi lah. Karena aku lupa, mereka bukanlah para sarja S1, tapi mereka adalah bocah bocah yang belum pernah tamat membaca Iqro I sekalipun…he he he..
Dan tiba tiba Si Abin segera bergegas kedapur dan mengambil sebilah pisau dan memberikanya pada Si Abank. Dan tanpa diperintah, si Abang langsung membelah buah sawo itu menjadi dua bagian, dan dua bagian itu di belah menjadi masing masing dua bagian lagi….
” Ini buat Abank. ini buat Abin, ni buat ibu, dan ini buat ayah deh…” kata si Abin saat membagikan buah sawo yang telah menjadi empat bagian itu..Dan keduan anakku pun akhirnya mendapat solusi..
Kamipun akhirnya menikmati buah sawo yang sedikit itu tapi manisnya sangat luar biasa . Dan rasa manis itu itu tidak berkurang sedikitpun walau jumlahnya sedikit.
“Naaah… nanti kalau kalian udah gede, atau mungkin kalian udah jadi sarjana. Entah sarjana hukum, sarjana pendidikan, sarjana ekonomi, atau sarjana apalah….. dan ayah sama ibu udah ga ada, terus kalian mendapatkan rizky dari Allah jangan nunggu di jelasin kaya gini lagi yah…kalian sudah harus tahu harus bersikap bagaimana, dan juga jangan suka ngeribet ribetin hal sebetulnya sederhana..oke ?”
” Iyaaaah….” mereka pun menjawab serentak, entah mengerti entah ngga. Tapi mereka sudah kembali ceria dan tertawa sambil menyaksikan ulah “Spongboob Squarpaint” lewat televisi Sharp 14 inc yang 9 tahun lalu kami beli lewat kredit.
Sekitar pukul 2 siang, kami sampai di kota Tulung Agung dan memutuskan untuk singgah di rumah saudara kami. Kata pamanku dia adalah salah satu saudara kami yang terpaksa mengembara mengikuti sang suami dan sudah sepuluh tahun lebih tinggal di kota itu. Dia adalah anak dari sepupu neneku yang kebetulan neneke sama nenek dia…sama sama nenek lah..begitu kira kira, aku juga ga ngerti. Tapi cukup lumayan lah untuk dijadikan tempat singgah setelah lebih dari 24 jam melakukan perjalanan, atau dengan sedikit embel embel silaturrahmi, bisa juga sekedar nunmpang ngopi…he he he .
“Bayang Gambang”, begitu tulisan yang kubaca, sebagai deskripsi atas salah satu peninggalan Sunan Drajat, yang menjadi salah satu media bagi beliau untuk menjalankan proses da’wah penyebaran ajaran islam di tanah jawa. Adalah sebuah panggung yang tidak terlalu besar, tapi juga tidak terlalu kecil dan bahkan cukup nyaman untuk dijadikan tempat berkumpul, bercengkrama, atau bahkan bermusyawarah. Di tempat ini pula konon para Wali Allah sering mengadakan kumpulan untuk membicarakan tentang cara cara, hambatan hambatan, target target, atau penyampaian tentang ” update ” usaha mereka dalam proses pengislaman tanah jawa..
Dalam perjalanan kami mengelilingi pulau jawa dan sekaligus berziarah ke makam makam serta ke tempat tempat para Wali/Ulama terdahulu, 